RSS

kerajinan irig dan kalo (warisan leluhur berbahan bambu dari prapaglor)

06 Apr

IMG0062A

Irig dan kalo adalah kerajinan yang terbuat dari anyaman bambu. Walaupun terbuat dari bahan yang sama dan teknik yang sama, tapi antara kalo dan irig mempunyai kegunaan yang berbeda. Jika dilihat sekilas, kedua benda ini terlihat sama. Akan tetapi, jika dilihat dengan seksama sebenaranya kedua benda ini berbeda. Dilihat dari anyamannya, irig mempunyai tingkat kerapatan anyaman yang rendah (lebih renggang) dibanding dengan kalo. Tingkat kerapatan anyaman inilah yang menjadikan fungsi kedua benda ini berbeda. Irig lebih berfungsi sebagai tempat meniriskan bahan makanan, sedangkan kalo biasanya digunakan sebagai alat untuk menyaring khususnya santan kelapa.

Pembuatan irig dan kalo sebenarnya tidak terlalu sulit, akan tetapi butuh ketelatenan yang cukup tinggi. Pembuatan irig dan kalo dimulai dengan memilih batang bambu. Jenis bambu “tali” adalah yang sering digunakan untuk membuat irig dan kalo ini. Selain itu, pemilihan ruas bambu juga perlu diperhatikan. Ruas bambu yang paling ujung (baik ujung bawah maupun ujung atas) biasanya tidak digunakan karena kualitasnya yang kurang bagus. Untuk harga sendiri, 1 batang bambu dibeli dengan harga rata-rata delapan ribu rupiah. Tiap ruas bambu bisa menjadi satu atau dua irig atau kalo. Setelah memilih bambu, langkah selanjutnya adalah membelah-belah bambu tersebut (disuwir)  menjadi lembaran-lembaran kecil sesuai kebutuhan. Lembaran-lembaran kecil ini yang nantinya akan digunakan sebagai bahan untuk dianyam menjadi irig dan kalo. Dari bahan suwiran bambu kemudian dianyam. Anyaman untuk kalo dibuat lebih rapat dibanding untuk irig sendiri.  Setelah anyaman jadi, kemudian anyaman tersebut diberi bingkai atau diwengku. Setelah diwengku kemudian bahan irig setengah jadi tersebut dijahit menggunakan tali dari serabut kelapa. Proses pemberian bingkai biasanya diserahkan kepada orang khusus yang memang sudah ahli dalam hal ini. Tukang bingkai ini biasanya mamatok harga lima ratus rupiah tiap irig atau kalo. Setelah terbingkai, proses penjaruman dilakukan oleh si empunya irig dan kalo tersebut. Pengrajin menjual irignya dengan harga sekitar dua ribu sampai tiga ribu rupiah per buah. Sedangkan untuk harga beli dipasaran sendiri bisa mencapai harga lima ribu rupiah.

Irig dan kalo mungkin sudah jarang ditemui di kota-kota besar. Selain karena sudah ada alat yang lebih praktis, semakin sedikitnya pengrajin juga menyebabkan langkanya irig dan kalo ini. Sebenarnya irig dan kalo ini terbilang merupakan alat masak yang sehat, hal ini dikarenakan semua bahan pembuatannya alami tanpa ada yang mengandung unsur plastik. Asalkan rajin membersihkan dan menyimpannya dengan benar, maka alat masak ini akan tetap aman unutk digunakan. Kelemahan irig dan kalo jika dibanding dengan alat serupa yang terbuat dari plastik adalah irig dan kalo cenderung lebih cepat rusak.

Dari sedikitnya pengrajin irig dan kalo yang ada, terdapatlah sebuah desa yang mayoritas penduduknya bekerja menjadi pengrajin irig dan kalo. Desa Prapaglor, kecamatan Pituruh, Kabupaten Purworejo merupakan salah satu sentra penghasil irig dan kalo yang masih eksis sampai sekarang ini. Kerajinan irig dan kalo yang dihasilkan daerah ini didistribusikan keluar kota bahkan sampai Jawa Timur dan sekitaran Jakarta.

Para pengrajin irig dan kalo mayoritas adalah ibu-ibu rumah tangga. Tapi tidak sedikit ada bapak-bapak yang membuat irig juga. Para ibu kebanyakan bertugas menganyam bahan irig dan kalo. Sedangkan para bapak bertugas untuk  membingkai bahan irig tersebut sebelum finishing dengan dijarum mengguanakan tali dari bahan serabut kelapa oleh para ibu.

Tidak ada yang tahu pasti kapan pertamakali irig dan kalo ditemukan. Yang pasti, sudah dari jaman dulu sekali desa Prapaglor ini memang penduduknya mayoritas berprofesi sebagai pengrajin irig dan kalo. Pengrajin yang sekarang ini masih eksis mengaku, memang sudah dari kecil mereka diajarkan dan dibiasakan membuat kerajinan dari bambu ini. Akan tetapi, untuk sekarang ini, sudah makin sedikit anak muda yang mau untuk meneruskan usaha pembuatan kerajinan irig dan kalo. “Anak-anak muda jaman sekarang lebih suka merantau karena beberapa alasan mulai seperti gengsi, atau mungkin mereka menganggap usaha kerajinan irig ini kurang menjanjikannya untuk masa depan”, kata seorang pengrajin yang ada di Prapaglor sana.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 6, 2013 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: